Saat langit gelap
Ketukan irama langkah kaki yang sama, saat aku sibuk dengan yang lain, masih dapat kudengar setiap langkah kaki yang tidak asing ini, seolah aku telah bersama langkah ini begitu lama. Meski bayangmu masih belum sampai, tapi aku sudah dapat melihatnya. Kau bintang yang bersinar terang, yang dulu selalu terangi malamku, menenggelamkan bintang lain dalam cahayamu. Lama mulutku tak bersuara, dan kini kau kembali lagi. Kau berbeda jauh, tak serupa masa lalu.
Terkadang kita harus mengerti bahwa di waktu yang sama, tempat yang sama, dan ketukan yang sama, belum tentu ada orang yang sama. Masih di sekolah, pukul 09.15 saat dulu kau bersamaku, membuat setiap hariku bersinar. Kini kau telah dewasa, kau telah berpikir dengan caramu sendiri, bahkan kau sudah tak memerlukan saranku. Dalam benakku selalu tertulis larik tanya. Apakah kau masih sahabatku? Ataukah ini akhir ceritanya?
Dulu, saat mengejar truk pembawa pasir masih menyenangkan bagi kita, saat mie instan dengan kecap tambahan masih tak terasa terlalu manis. kau pernah berkata "Kita sahabat kan? Berarti mau bagaimana pun jangan jauh-jauh ya, apalagi sampai bermusuhan." sambil tertawa lembut kata-kata itu terlontar. Kini aku sadar bahwa di tempat dan waktu yang sama ini, kau sudah tidak sama lagi. Seketika langit rasanya menjadi lebih gelap, begitupun hatiku saat tahu kita sudah tak saling kenal lagi. Semuanya jauh berbeda, kau begitu dingin dan tanpa menghiraukan sahabat kecilmu ini, yang sudah menunggumu saat kau jauh, meski harus tetap sendiri saat langit gelap menghantar badai. Kelabu? Kurasa badai dalam hatiku lebih kelam lagi, potretmu dalam album telah memudar, dan langit semakin gelap.
Saat langit gelap, kuputuskan bahwa kau telah memutuskan akhir cerita dari pernyataan "Kenangan selalu ada di belakang."
Komentar
Posting Komentar