Nila & Jingga

    Kala mulut tak lagi bersuara, kala cahaya mata tak lagi dapat menggambarkan betapa dalamnya sebuah perasaan. Tangis dan tawa, lebih dari itu perwujudan ekspresi terdalam manusia. Tak banyak yang tau saat aku harus menenggelamkan kepalaku ke air sebelum aku berteriak, tak ada yang tau berapa tebal roti yang menyumpal mulutku saat aku menangis tersedu bahkan mereka tak tau berapa lengan yang harus menutup mulutku saat aku tertawa. Bahkan kau terlalu egois untuk mengerti satu dari itu. Kau hanya selalu berpikir bisa lakukan yang kau mau, tapi semua itu justru membuatku ragu, siapa kau? 

    Aku pernah berjanji buktikan semuanya salah, semua opinimu. Sedang kau berjalan pada jam ke lima menghampiriku di batas waktu. Aku tak ingkar janji, dan kini kau labil kah atau sedang bermetamorfosis? Di batas waktu, kini kita t'lah bersama dengan aku sebagai dalangnya dan aku beritahukan "saat ini langit mulai terang dan tak ada yang tau, malam atau siang. Di langit hanya ada nila dan jingga yang beradu halus. Sama sepertimu hitam dan putih dalam dirimu, aku tidak pernah tau sebenarnya kau baik atau jahat." Dua warna yang berbeda dalam satu individu telah berbaur dengan sulit dan saat datang individu lain cobalah berbaur lebih halus dan kunci keegoisanmu agar ia tidak dapat keluar.

Komentar

Posting Komentar