Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Langit senja

     Hamparan pasir pantai nan halus menyapa setiap langkah kaki yang terkadang terbasuh air laut. Semua karya tuhan ini membuat ingatanku kembali bahwa kita pernah disini membuat peta kita sendiri, walau kini hanya aku sendiri yang bersama kenangan ...      Waktu tak selama yang kau kira, dan kesalahan terbesarmu adalah bahwa kau selalu merasa masih memiliki waktu. Jika kau bisa melihatku, kau akan tau betapa pilunya hati saat harus teringat semua ini, sayangnya kau tak disini. Sejak pagi tadi aku ditemani ribuan wajah orang-orang yang membuat kenangan di tempat kita, tapi aku justru berjalan melawan arus, melewati segala yang menjadi kenangan.       Jika kau disini pasti mereka terbungkam dan hanya menatap kita yang berlari, bercerita, bermain, berkuda dan berenang bebas dengan tawa yang tulus.      Aku tak pernah marah, kecewa atau pun membencimu atas kebohonganmu yang berkata bahwa kau selalu baik-baik saja, yan...

Saat langit gelap

     Ketukan irama langkah kaki yang sama, saat aku sibuk dengan yang lain, masih dapat kudengar setiap langkah kaki yang tidak asing ini, seolah aku telah bersama langkah ini begitu lama. Meski bayangmu masih belum sampai, tapi aku sudah dapat melihatnya. Kau bintang yang bersinar terang, yang dulu selalu terangi malamku, menenggelamkan bintang lain dalam cahayamu. Lama mulutku tak bersuara, dan kini kau kembali lagi. Kau berbeda jauh, tak serupa masa lalu.       Terkadang kita harus mengerti bahwa di waktu yang sama, tempat yang sama, dan ketukan yang sama, belum tentu ada orang yang sama. Masih di sekolah, pukul 09.15 saat dulu kau bersamaku, membuat setiap hariku bersinar. Kini kau telah dewasa, kau telah berpikir dengan caramu sendiri, bahkan kau sudah tak memerlukan saranku. Dalam benakku selalu tertulis larik tanya. Apakah kau masih sahabatku? Ataukah ini akhir ceritanya?      Dulu, saat mengejar truk pembawa pasir...

Nila & Jingga

     Kala mulut tak lagi bersuara, kala cahaya mata tak lagi dapat menggambarkan betapa dalamnya sebuah perasaan. Tangis dan tawa, lebih dari itu perwujudan ekspresi terdalam manusia. Tak banyak yang tau saat aku harus menenggelamkan kepalaku ke air sebelum aku berteriak, tak ada yang tau berapa tebal roti yang menyumpal mulutku saat aku menangis tersedu bahkan mereka tak tau berapa lengan yang harus menutup mulutku saat aku tertawa. Bahkan kau terlalu egois untuk mengerti satu dari itu. Kau hanya selalu berpikir bisa lakukan yang kau mau, tapi semua itu justru membuatku ragu, siapa kau?       Aku pernah berjanji buktikan semuanya salah, semua opinimu. Sedang kau berjalan pada jam ke lima menghampiriku di batas waktu. Aku tak ingkar janji, dan kini kau labil kah atau sedang bermetamorfosis? Di batas waktu, kini kita t'lah bersama dengan aku sebagai dalangnya dan aku beritahukan "saat ini langit mulai terang dan tak ada yang tau, malam atau si...

Manusia di persimpangan

     Berapa jauh lagi kaki tak beralas itu harus berjalan? Berapa lama lagi dahaga harus ia tahan? Berapa banyak lagi keringatnya harus mengalir karena tersengat sang surya?      Manusia di persimpangan itu, haruskah ia duduk membeku? Menyapa setiap pengguna jalan dan menyampaikan bait bagi pemberi duit. Tinggi tak sampai, rendah t'lah tenggelam. Wajah menunduk, tangan menampan, potret manusia tua di persimpangan. Daya tak ada, keluarga t'lah tiada. Hilang harap masa mudanya dari lingkar emas atas nama negara di kalungnya.       Manusia tua telah di persimpangan. Melihatnya tak kuasa, membantunya tak punya kuasa. Hukum melarang namun negara tak pelihara. Wahai manusia setengah dewa, kau di puja kau diturut. Apa masih bisa kita melihat mereka yang renta tak berdaya, tapi tak bisa membantu karena hukum yang buntu? Berilah mereka, jika kami tak di beri kuasa atau hargai mereka atas apa yang ada pada mereka tanpa kami turut m...