Bukan Lagi Sekedar Ruang

Kau tempat sebuah rasa yang gamang bermuara, aku bagian dari perasaan histeris para wanita.
Berteriaku dibalik punggung kawan, tak tertahan senyumku melihat penampilanmu di depan, mencair sifatku dibalik punggung yang tak bisa kumiliki. Ketidakberuntungan yang membuatku bahagia, dan suatu saat rahasia ini bukan rahasia lagi tapi kau tetap ku cari dalam setiap larik cerita yang kutulis.
Tidak harus kan kutulis namamu? Jangan buatku malu setelah mereka tahu. Rasanya tidak mau aku bertemu setelah rahasia menjadi lembaran baru.
Mulai dari satu paragraf yang kukirim untukmu, lara yang tak kau sapa, punggung yang kudesak, suara yang ku rekam dan potretmu yang tersimpan, sampai kekasihmu yang merasa ironi padaku. Dalam satu hari tanpa jeda untuk aku renungi, salahku? Atau salah teman-temanku?
Aku memang begini aslinya, bukan berubah. Kamu yang belum mengenal tidak perlu merasa benar, karena mata kita yang terjeda bukan berarti akan ada senyum yang terulas, kau tak baik dan aku egois. Kita manusia moody yang terpisah jarak bukan lagi sekedar ruang, bahkan saat ujung sepatumu sebenarnya mengarah padaku juga.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing yang tersesat

Goresan tinta

Nila & Jingga