Sahabat atau persahabatanya?

Sudah lama sekali sejak percakapan terakhir yang kita lakukan, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas, sepulang sekolah saat SMP. Sangat kaku, percakapan yang sangat kaku tapi kau terus berusaha menciptakan tawa. Hari itu memang bukan sebuah kesengajaan kita bertemu. Karena sejak masuk SMP, kita tahu kita sama-sama sibuk dan aku menyesali kesibukanku yang membuat kita semakin menjauh terus sampai hilang, beruntung saja hari itu kita bertemu dan kamu mau meretas semua kecanggungan. Setelah hari itu aku selalu menunggu kamu di depan gerbang sekolah, karena walaupun sekolah kita berbeda tapi jalanmu pulang harus melewati aku. Satu hari terlewat, dua minggu terlewat, tiga bulan terlewat, sampai empat tahun aku menunggu tapi kamu tidak pernah lewat lagi, bahkan kita sudah SMA dan kini kamu diasramakan.

Mungkin rumah kita berjarak sangat jauh, ada sebuah selokan komplek perumahan yang membatasinya sekitar 50cm, mungkin kurang. Sampai-sampai aku tidak tahu saat kamu sedang pulang.

Pernah sekali waktu kita berpapasan, ingat? Kamu yang menyapa aku tapi aku malah bersembunyi, ini canggung, aku tidak bisa memulainya, aku menyesal, aku merasa aku telah kehilangan kamu, aku rindu. Sampai saat ini aku merasa hanya kamu yang bisa menerima aku dengan segala keanehan dalam diriku tapi aku kehilanganmu.

Jadi, setelah semua ini sahabat atau persahabatan yang sebenarnya diasramakan? Entahlah kamu menganggapku apa hari ini tapi aku masih menganggapmu sama seperti terakhir kali kamu memakan semua pisang keju yang aku beli sepulang sekolah, aku masih menganggapmu sama seperti terakhir kali kamu melompati rumahku untuk pulang karena ayahku pulang dan kau takut dengan masih membawa pisang keju yang sama. Aku tak berkawan sejak pisang keju itu kau bawa pulang, rasamu mulai beda. Aku rindu.

Aku tulis semua ini karena hari ini aku melihat tiga buah foto kamu dan orang-orang yang kamu sebut sahabat dan aku rindu. Aku tidak berharap kamu membaca ini hari ini atau besok tapi suatu hari kamu tetap harus membacanya, ini bukan karya sastra apalagi karya ilmiah, ini hanya ungkapan rindu yang harus ditulis karena tidak mungkin untuk dikatakan. Aku rindu.

Sampai hari ini, mungkin sampai nanti entah ada batasnya atau tidak tapi aku menunggu kamu mengajaku bermain bersama lagi. Kamu ken dan aku barbie, kamu pedagang dan aku pembeli, kamua murid dan aku guru, kamu pemain sepak bola dan aku menejer. Aku tidak keberetan jika kamu mau bertukan peran, kadang aku berpikir kamu pergi karena aku egois dan tidak mau bertukar peran. Baiklah, ini karena aku yang menghindar dan merasa canggung tapi aku rindu.

Kita lebih terkenal dari artis internasional di kalangan pedagang yang berjualan di perumahan kita. Kemana pun kita selalu berdua, membentengi selokan, bolos TK, jajan, bersepeda bahkan mengerjakan apapun sepertinya. Kamu harus tau tadi malam aku membeli jajanan yang dulu kita selalu beli dan pedagang dengan topi biru yang sama seperti 12 tahun lalu bertanya kenapa aku hanya jajan sendiri bukanya denganmu dan aku hanya tersenyum. Aku rindu.

Sini kerumahku kita main lagi, aku berjanji aku tidak akan egois, aku tidak akan buang muka dan bersembunyi atau setidaknya ambilah semua mainanmu juga dompet nenekmu yang kau pinjam karena pembeli belum menemukan dompet kecilnya, semua yang tertinggal dirumahku setidaknya ambilah agar aku bisa mendengar kamu memanggilku di depan rumah. Lagi. Aku rindu

Berapa kali kamu bertanya padaku bahwa persahabatan kita akan selamanya, kamu selalu menyuruhku menjawab ya dan mengikat janji kelingking tapi aku bodoh dan kamu sama bodohnya, kita pupus dan aku menyesal. Aku rindu.

Aku sudah bilang kan bahwa aku tidak berharap kamu membaca ini, tapi kalau kamu membacanya dan sadar, jangan tertawa aku hanya sedang merindukanmu dan bersedih sendiri karena aku rindu.

Kalau kamu benar-banar tidak membaca ini sampai selamanya dan kamu juga tidak sadar. Maka aku tegar akhirnya bukan hanya sahabatku yang diasramakan tapi juga persahabatan kita, bahkan jika asrama untuk persahabatan kita telah dikunci dan kuncinya hilang, tidak apa. Aku sudah dewasa, aku yakin aku kuat walaupun ini berat karena aku rindu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing yang tersesat

Goresan tinta

Nila & Jingga