Postingan

Dengan Nada Kecewa

Dengan ini aku sadar, manusia memang makhluk yang kompleks. Manusia adalah hal paling rumit yang hidup di bumi ini dan membuat keputusan dalam setiap waktu. Aku memutuskan untuk mau tetapi kekecewaanku ada pada hal yang tidak mereka tahu. Aku selalu percaya pada setiap kata dan cerita, aku tidak pernah meminta fakta ataupun data tapi ketahuilah aku sangat suka pada kejujuran yang ada. Akan sangat kecewa jika aku tahu aku bukan pilihan pertama, akan sangat kecewa jika aku tahu aku tidak pernah diinginkan, akan sangat kecewa jika aku tahu kalian sebenarnya tidak mau aku. Aku siap dengan segala konsekuensi, tapi beda cerita jika itu melukai harga diri. Aku tidak keberatan dikata-katai tapi jangan hak milikku dilangkahi. Aku tidak keberatan diberi luka, tapi jangan aku dijadikan pilihan kedua. Aku adalah orang paling baik dan dengan senang hati mau kau bodohi dan kau manfaatkan, aku adalah orang paling naif yang sepakat dengan segala keputusan. Jika aku berubah, kamu tahu bahwa aku benar...

Bukan Lagi Sekedar Ruang

Kau tempat sebuah rasa yang gamang bermuara, aku bagian dari perasaan histeris para wanita. Berteriaku dibalik punggung kawan, tak tertahan senyumku melihat penampilanmu di depan, mencair sifatku dibalik punggung yang tak bisa kumiliki. Ketidakberuntungan yang membuatku bahagia, dan suatu saat rahasia ini bukan rahasia lagi tapi kau tetap ku cari dalam setiap larik cerita yang kutulis. Tidak harus kan kutulis namamu? Jangan buatku malu setelah mereka tahu. Rasanya tidak mau aku bertemu setelah rahasia menjadi lembaran baru. Mulai dari satu paragraf yang kukirim untukmu, lara yang tak kau sapa, punggung yang kudesak, suara yang ku rekam dan potretmu yang tersimpan, sampai kekasihmu yang merasa ironi padaku. Dalam satu hari tanpa jeda untuk aku renungi, salahku? Atau salah teman-temanku? Aku memang begini aslinya, bukan berubah. Kamu yang belum mengenal tidak perlu merasa benar, karena mata kita yang terjeda bukan berarti akan ada senyum yang terulas, kau tak baik dan aku egois. Kita...

Sahabat atau persahabatanya?

Sudah lama sekali sejak percakapan terakhir yang kita lakukan, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas, sepulang sekolah saat SMP. Sangat kaku, percakapan yang sangat kaku tapi kau terus berusaha menciptakan tawa. Hari itu memang bukan sebuah kesengajaan kita bertemu. Karena sejak masuk SMP, kita tahu kita sama-sama sibuk dan aku menyesali kesibukanku yang membuat kita semakin menjauh terus sampai hilang, beruntung saja hari itu kita bertemu dan kamu mau meretas semua kecanggungan. Setelah hari itu aku selalu menunggu kamu di depan gerbang sekolah, karena walaupun sekolah kita berbeda tapi jalanmu pulang harus melewati aku. Satu hari terlewat, dua minggu terlewat, tiga bulan terlewat, sampai empat tahun aku menunggu tapi kamu tidak pernah lewat lagi, bahkan kita sudah SMA dan kini kamu diasramakan. Mungkin rumah kita berjarak sangat jauh, ada sebuah selokan komplek perumahan yang membatasinya sekitar 50cm, mungkin kurang. Sampai-sampai aku tidak tahu saat kamu sedang pulang. Perna...