Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Permainan selamat tinggal

 Disini semuanya terlihat jelas, permainan yang kau mulai berakhir pada dirimu sendiri. Kau memiliki kekhawatiran yang sama, tapi saat kau menyadarinya aku yg lebih dulu menyelesaikan permainanmu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Memberimu balasan? Ku tahu kau sedang merasakanya.  Kau berbalik dan keluar dari semua ini disaat yang sama aku tak lagi memedulikanmu.  Setiap pemain tidak akan bermain-main dengan permainanya, begitulah aku saat kau memulainya. Kau menganggap mudah seolah aku pasti kalah tanpa kau pertimbangkan perasaan yang kau pertaruhkan.  Mungkin kau merasa hebat, kau merasa buas, mungkin kau pikir tak akan kalah. Jika semua ini didasarkan pada mungkin, kau melupakan aku yang mungkin bisa mengalahkanmu. Kau terlalu bercelah, aku tau kekuranganmu dan cukup tau bagaimana cara bermain.  Sayangnya aku menyayangimu tapi ku tau yang pantas untukku. Aku akan memelukmu dan berkata selamat tinggal.

Hambar

 Imajiku akan semua kaindahan hidup ini mulai memudar secara perlahan, satu persatu cita yang ku harap mulai terlihat keaslianya. Hilang secara berurutan, mimpi yang telah ku susun ternyata hanya sebuah bunga tidur yang tak bisa lagi ku lanjutkan kisahnya.  Kupikir mereka yang tertipu oleh setiap ucapku tapi kuingat kembali dan coba membawa fakta ternyata akulah yang tertipu oleh kebohonganku, mata yang tertutup oleh tawa palsu mereka yang bahkan masih sulit ku bedakan.  Setidaknya jika tak ada lagi yang bisa ku dapatkan, jika tak ada lagi yang dapat kurasakan, jika tak dapat lagi kulakukan hal yang ku inginkan. Aku masih dalam mimpi tuk menikmati aroma kehidupan yang tersisa, masih dapat membingkai sisa-sisa ceritaku yang masih dapat kuingat.  Tak ada kambing hitam atas tersudutnya jiwa ini, semua tanaman akan memberikan buahnya.  Yang mereka tak akan ketahui, yang tersembunyi di belakang barisan tulang rusuk, yang telah kusesali. Sesal menutupny...