Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Kucing yang tersesat

 Beranjak dari tidur lelapku, sejenak matahari terasa tak bersinar tapi ternyata hanya aku yang belum sadar.  Kau melewati batasanmu dan kau tentukan batasanku. Herannya kau selalu menertawakanku tapi tak pernah kau tanggapi saat aku tertawa atasmu. Kau tak bisa ku terka, kau mudah berubah kadang aku merasa menjadi yang paling dekat denganmu dan tak lama aku bagai kucing yang tersesat. Aku tau tujuanku, tapi aku tak tau kemana kakiku harus melaju. Jalan seolah terlalu bercabang untuk kupilih salah satu.  Kau begitu dingin hingga tak terbaca, kau begitu tinggi hingga sulit ku gapai bahkan kau terlalu hangat hingga ku rasa tak pantas dan kau amat pemalu tuk kupuji.  Gerak jemari, laju langkah kaki, tampak gestur berani. Itu semua yang membuatku mangenalmu, namun kau tinggalkan aku saat kau berlalu. Kini kucing kecil yang benar-benar tersesat takkan dapat kembali lagi, ia sudah dibuang.  Bagai kucing yang tersesat, saat aku tak dapat temui jalan, bahkan ta...

Bintang jatuh

 Kelam langit berhias bintang, semua orang tau bahwa bintang menyimpan kenangan, memoriku akan mu yang baru saja siang tadi terjadi dapat kurasakan perasaan itu sekali lagi saat ini. Kau buat mereka menuntun langkah ini menuju ruang gelap tempat kau berada, kau buat mereka menurutimu. Tak puas kau ku disampingmu dan kau katakan sumpah perasaanmu dengan tanya untuku sebagai pendamping setiap langkahmu, tak hanya aku yang rasa, kuyakin kau pun tau ruang ini terlalu gelap untuk aku menjawab sebuah pertanyaan.  Kali ini ku akui tanpa kemunafikan bahwa sang bintang jatuh sedang berada di pihakmu, kau berhak atas keberuntunganmu yang membuat aku tak dapat tuk menolakmu, tapi jika jujur lebih baik untukmu, coba dengar aku, dengar dengan perasaan bahagiamu yang positif, tak pernah mau aku kehilangan dirimu, ku ingin terus bersamamu sebagai seorang teman yang baik, karena cukup bahagia bagiku berteman denganmu.  Jingga emosinya buatku mengerti tak seharusnya kudenganmu, tak satu ...

Berlari tanpa meninggalkan jejak

     Merdu senandung, membuat hati terpasung. Telah terbiasa diri mendengarnya, terasa tenang hati bila di dekatmu. Seperti obat 3x1 hari, senandungmu teramat butuh 'tuk kudengar. Seperti ketergantungan, sulit kujalani hari tanpa alunan senandungmu. Kau berhasil buatku bergantung dan jadi mencintaimu. Kau tahu cara 'tuk memertahankan seseorang.       Aku tau pasti, hari untuk berpisah denganmu pasti datang walaupun aku tak pernah tahu bila akan secepat ini. Kau bahkan telah siap tuk pergi dengan senyum di bibir. Justru aku yang tak relakan kau pergi atas perasaanku yang semakin memburuk, membayangkan seluruh detik hidupku tanpa nada-nada darimu. Kuhitung tiap langkah kaki saat kau pergi dan aku merasa amat rindu walau kau masih dihadapanku, walaupun kau berlari begitu cepat dan terus semakin cepat sampai hilang punggungmu, kau berlari lebih cepat di sisi lain pantai ini hingga ombak berderu dan menghapuskan jejak kakimu. Kau berlari...